Confession

Live is a drama.

Seperti sinetron Cinta Fitri atau Tersanjung. Hidup saya terasa panjang sekali. Beribu-ribu jam, episode, dan season dihabiskan untuk membuat suatu cerita. Berpuluh-puluh aktor/aktris datang silih berganti memerankan pernannya dalam cerita yang dibuat sebagai takdir.

Seperti halnya sinetron, hidup saya juga  rumit. Rumit karena tidak semua hal yang diharap bisa terjadi dalam kehidupan, dan sebaliknya hal yang tidak diharapkan malah hadir tiba-tiba. Seperti belakangan ini.

Belakangan ini saya sangat kurang membaca. Kurang membaca buku. Kurang membaca situasi. Kurang membaca perasaan. Akibatnya saya menjadi egois dan mau menang sendiri. Merasa selalu benar dan menganggap orang lain salah. Selalu memberikan pembenaran pada semua yang saya lakukan walaupun belakangan menyadari bahwa itu salah. Membuat saya mengalami penumpulan otak.

Saya minta maaf. Hanya itu yang bisa saya lakukan sekarang. Minta maaf karena kemarin saya hanya bisa marah, benci, kesal dan menyalahkan kalian.

Kemarahan-kemarahan itu belakangan baru saya sadari sebagai kekonyolan, konyol karena seharusnya saya menumpahkannya pada diri sendiri, bukannya pada orang lain. Konyol karena saya baru ngeh ternyata akibat yang muncul terjadi karena sebab yang saya buat.

Saya menyesal, kenapa saat saya down begini saya baru ingat dosa-dosa yang sudah saya buat selama ini. Kenapa saat saya merasa sedang “diatas” saya tidak lagi mengingat dosa itu, sehingga saya berubah menjadi congkak. So typical memang. Manusiawi sekali. Itulah gunanya Tuhan. Bila kita tetap ingat Tuhan,seharusnya kita tidak akan merasa congkang dalam posisi apapun itu.  Tuhan yang akan menggiring kita untuk tetap membaca. Dia yang akan mengingatkan kita bahwa kemarahan itu biang dari kebodohan.

Saya sadar. Ada seseorang yang selama ini dengan sempurnanya ingin melindungi saya. Tanpa pamrih. Tetapi karena hati saya terlalu hitam ditutupi kemarahan dan kebencian, saya seolah-olah tidak melihat orang itu. Saya malah menghadirkan alasan-alasan pembenaran saya untuk bisa tetap marah dan benci padanya. Lucu karena saya selama ini sadar akan hal itu, tapi tetap menutup mata.

Saya sadar. Saya harusnya bersyukur dengan apa yang saya dapat selama hidup. Tetapi selalu ada saja yang membuat saya tidak puas. Ingin mendapat yang lebih, tetapi tidak mau berusaha mendapatkannya dengan cara yang fair.

Saya sadar. Apa yang saya pikirkan dan tuliskan dalam blog ini di postingan sebelumnya sangat memuakkan karena berisikan hal-hal yang tidak jauh dari keluhan dan pencitraan yang semakin memperlihatkan kebodohan saya sendiri. Menyesal kenapa saya baru merasa malu sekarang.



Tuhan,
Sebenarnya saya malu untuk meminta. Tapi hanya padamu saya bisa meminta.

Tuhan,
Jadikanlah hidup saya setelah ini menjadi lebih bermanfaat.
Sebodoh itu kah saya,Tuhan?
Sampai-sampai untuk berhenti menyakiti orang lain saja saya tidak bisa?

Tuhan,
Jika memang saya bisa menghapus dosa-dosa saya sebelum ini dengan melakukan sesuatu yang engkau perintahkan, maka saya ingin hal itu saya lakukan dengan dia,Tuhan.

Tuhan,
Semoga ini belum terlambat.
Amin.

0 komentar:

Poskan Komentar